Make your own free website on Tripod.com

PENGELOLAAN HWA BANING

 

A. PERENCANAAN

Dari hasil praktek lapang, diketahui bahwa perencanaan kerja dalam kegiatan pengelolaan Hutan Wisata Baning bersifat insidental (kecuali kegiatan pengawasan/monitoring lapangan). Perencanaan ini disusun setiap tahun berdasarkan tindakan yang akan dilaksanakan dengan mempertimbangkan permasalahan yang ditemui dilapangan dalam kegiatan pelaksanaannya. 

Adapun perencanaan tersebut berupa:

1.     Pemantapan Batas Kawasan, dilaksanakan untuk memperjelas batas kawasan dimana telah terjadi penyusutan luas kawasan dari 315 Ha menjadi 213 ha akibat penyerobotan tanah oleh masyarakat dan oknum-oknum tertentu.

2.      Inventarisasi Potensi Kawasan, dilakukan guna mengetahui potensi yang dimiliki kawasan. Dengan demikian dapat diambil kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan kondisi dilapangan disamping dapat digunakan untuk menggali potensi yang masih tersembunyi.

3.       Pengayaan Jenis Vegetasi, bertujuan untuk menambah keanekaragaman jenis yang ada, disamping untuk mengganti jenis-jenis tertentu yang telah hilang. Caranya yaitu dengan melaksanakan reboisasi di tempat yang telah ditentukan dengan mempertimbangkan kememppuan tumbuh spesies yang bersangkutan sehingga program peengayaan jenis dapat berjalan dengan baik.

4.      Perlindungan Hutan, dimaksudkan untuk menghindari Hutan Wisata Baning dari penyerobotan tanah, seperti yang selama ini terjadi. Hutan Wisata Baning Sendiri telah mengalami penyusutan dari 315 Hektar (1975) menjadi 1213 Hektar (1992), bahkan diperkirakan luas Hutan Wisata Baning sekarang tinggal 150 Ha.

Gambar 1.Tanda Batas Hutan Wisata baning

 

Selain itu perlindungan hutan juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengambilan kayu oleh oknum masyarakat, seperti yang tampak dilapangan dimana kayu balok untuk jalan telah diambil (dicuri) sehingga jalan gertak menjadi terputus.

         Gambar 2. Jalan gertak di Hutan Wisata Baning

 

5.      Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan, khususnya ditujukan kepada masyarakat sekitar kawasan. Pencegahan dapat berupa penyuluhan dan himbauan kepada masyarakat, sedangkan penanggulangan berupa pembentukan Brigade pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkar).

           Gambar 3. Alat Pemadam kebakaran

Hutan Wisata Baning sendiri berada di bawah pengawasan Unit Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat dan secara teknis diserahkan kepada Seksi Konservasi Sumberdaya Alam Wilayah II Sintang.
 

Gambar 4. Kantor Seksi KSDA Sintang

 

Brigade Penanggulangan Kebakaran Hutan (Brigdalkar) merupakan Badan/pasukan yang bertujuan untuk menanggulangi terjadinya kebakaran hutan,  yang beranggotakan 60 Orang.

Perencanaan Kegiatan Pengelolaan Hutan Wisata Baning seringkali terbentur pada beberapa masalah klasik, seperti :

a.       Terbatasnya anggaran/dana untuk pelaksanaan kegiatan, dana yang dialokasikan untuk mengelola Hutan Baning yang luasnya mencapai 213 Ha sangat kecil bila dibandingkan dengan dana yang diperuntukan bagi Unit Taman Nasional.

b.      Minimnya jumlah personil dilapangan, tekanan yang begitu besar terhadap Hutan Baning khususnya dari masyarakat hendaknya diimbangi dengan jumlah personil yang memadai sehingga pengelolaan dapat lebih intensf dilaksanakan.

c.        Minimnya sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan kegiatan sehingga menghambat laju pelaksanaan kegiatan. Perencanaan yang baik akan berhasil jika didukung dengan sarana dan prasarana yang ada.