Make your own free website on Tripod.com

PENUTUP

 

  1. Hutan Wisata Baning memiliki 72 Jenis vegetasi flora dan 36 jenis fauna yang berada didalam kawasan yang berawa gambut. Vegetasi yang tumbuh didominasi oleh jenis Ramin (Gonytylus, sp), Rengas (Gluta renghas), Mabang (Shorea pachyphylla. Ridl), Leban (Vitex pubescens), serta beberapa famili Dipterocarpaceae.
  2. Dana yang diperuntukan untuk pengelolaan Kawasan Konservasi di Kalimantan Barat, khususnya di Hutan Wisata Baning sangat kecil sehingga kegiatan pengelolaannya pun menjadi tidak intensif dan hanya bersifat insidentil.
  3. Jumlah personil/ petugas KSDA dilapangan sangat minim (6 orang), itu pun ada yang tidak aktif. Sedangkan untuk petugas Pemadam Kebakaran Hutan (Brigdalkar) berjumlah 60 orang dengan peralatan yang memadai dan siap 24 jam dalam kondisi siaga I.
  4. Partisipasi masyarakat terhadap kawasan Hutan Wisata Baning cenderung merugikan karena berupa pendudukan lahan dalam kawasan konservasi, baik  untuk pemukiman maupun tempat usaha.
  5. Hutan Wisata Baning sangat rentan terhadap bahaya kebakaran hutan, terutama yang disebabkan oleh faktor manusia (human factor).
  6. Potensi flora dan fauna serta keindahan panorama alam merupakan nilai jual (aset) dalam mengelola Hutan Wisata Baning.
  7. Letak Hutan Wisata Baning yang dekat kota Sintang sangat strategis sehingga sangat cocok untuk dikembangkan menjadi Taman Wisata Alam, terutama sebagai sarana rekreasi keluarga bagi masyarakat sintang.

 

Guna pengelolaan kawasan yang lebih baik dimasa yang akan datang dalam rangka pengembangan menuju kearah yang lebih baik, maka sebaiknya :

  1. Kegiatan pengelolaan Hutan Wisata Baning  (HWB) perlu lebih ditingkatkan (diintensifkan) lagi agar ; gangguan dan tekanan terhadap kawasan hutan bisa dieliminir, memperkaya khasanah/ potensi flora dan fauna yang ada serta merubah visi masyarakat sekitar HWB agar memanfaatkan HWB dari sisi keindahan (rekreasi).
  2. Sebagai Taman Wisata Alam yang merupakan tempat rekreasi, HWB hendaknya di kelola secara profesional agar mendatangkan manfaat ekonomi (devisa) dari masyarakat/wisatawan yang datang berkunjung dengan tetap  memperhatikan azas konservasi, dimana sebagian besar dana yang diperoleh digunakan kembali untuk kegiatan pengelolaannya.
  3. Agar kegiatan pengelolaan dapat dilaksanakan, maka instansi terkait perlu mengalokasikan dana untuk kegiatan dimaksud, dimana selama ini dana untuk kegiatan pengelolaan kawasan konservasi khususnya untuk HWB sangat kecil bila dibandingkan dengan Unit Taman Nasional.
  4. Dengan jumlah Petugas KSDA dilapangan hanya 6 orang (apalagi ada yang tidak aktif) maka diperlukan penambahan jumlah personil dilapangan, terutama untuk petugas Jagawana mengingat tekanan terhadap kawasan konservasi yang begitu besar.
  5. Mengingat rentannya kawasan dari kebakaran hutan, maka diperlukan perencanaan yang matang yang disertai dengan aksi nyata dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran tersebut agar dimasa yang akan datang tidak terjadi lagi. Terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan, karena pada akhirnya terjadinya kebakaran hutan juga sangat merugikan mereka sendiri.
  6. Perlu dilakukan pemurnian kembali kawasan dari pihak-pihak yang telah menduduki lahan dalam kawasan hutan, sehingga luas kawasan yang sekarang berjumlah 213 Ha. tidak berkurang kembali. Tindakan tegas wajib diambil apabila kemudian pihak yang bersangkutan menolak untuk pindahkan dengan menempuh jalur hukum.
  7. Fasilitas yang ada di kawasan Hutan Wisata Baning perlu dirawat secara periodik sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pengunjung.
  8. Pihak pengelola HWB kiranya dapat menanamkan jiwa konservasi kepada pengunjung (wisatawan) dan terutama masyarakat sekitar kawasan.