Make your own free website on Tripod.com

PENGELOLAAN HWA BANING

 

B. PELAKSANAAN

Seperti yang telah diuraikan diatas, kegiatan pengelolaan hanya bersifat insidentil, sedangkan yang rutin dilaksanakan hanya pengawasan lapangan (monitoring). Adapun bentuk dari kegiatan pengawasan lapangan adalah sebagai berikut :

a.       Kegiatan Patroli Kawasan, bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kawasan Hutan Wisata Baning dalam bentuk apa pun. Dilaksanakan 4 kali dalam seminggu dengan jumlah personil 2-4 orang. Umumnya ditujukan untuk mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran seperti :

-         Penyerobotan tanah untuk pemukiman dan tempat usaha

-         Pengrusakan terhadap papan-papan peringatan

-         Perburuan liar

-         Aksi corat-coret pada sarana penunjang (grafity)

-         Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya

-         Pencurian kayu, khusunya pada jalan gertak di Hutan wisata Baning

             Gambar 9. Jembatan gertak yang terputus akibat pencurian kayu

 

b.      Monitoring Permasalahan Kawasan dan Pemukiman Penduduk, letak Kawasan Hutan Wisata Baning yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk mengakibatkan tekanan terhadap kawasan begitu besar. ketika pertama kali diresmikan sebagai hutan lindung, Baning memiliki luas 315 Hektar, namun akibat terjadinya penyerobotan tanah oleh masyarakat untuk pemukiman dan tenmpat usaha luas Hutan Wisata Baning tinggal 213 Ha. Sekarang, kepada masyarakat yang mencaplok tanah yang terletak di kawasan Hutan Wisata Baning akan diberikan pendekatan, sanksi hingga diproses secara hukum apabila tidak mengindahkan larangan yang ada.

c.       Monitoring Pengunjung dan Jalur Batas, bertujuan untuk memantau aktifitas peneliti dan wisatawan yang masuk ke kawasan. Setiap peneliti dan wisatawan yang masuk kedalam kawasan wajib melapor ke Dinas KSDA Sintang, yang kemudian akan mendampingi aktifitasnya di dalam kawasan. Dengan demikian prilaku dan tindakan yang bersangkutan dapat diawasi guna kepentingan pengamanan kawasan hutan.

Gambar 10. Kondisi Papan Himbauan yang ditutupi Rerumputan

 

Monitoring jalur batas dilakukan dengan pengamatan secara langsung dilapangan terhadap jalur batas dan papan himbauan/larangan. Dari hasil pengamatan selama Praktek Lapang diketahui bahwa kondisi patok batas dan papan himbauan/larangan masih dalam keadaan baik, Cuma kurang terawat. Hal ini tampak pada kondisi keduanya yang di tutupi oleh rumput.

d.      Monitoring Terhadap Kebakaran Hutan, bertujuan untuk mengantisipasi dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan. Apabila kondisi rawan terjadinya kabakaran hutan yang ditandai dengan Siaga I, maka Pasukan Brigade Penaggulangan Kebakaran Hutan (Brigdalkar) akan siaga dalam waktu 24 jam guna mangantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan. Disamping itu petugas Seksi KSDA Sintang akan melapor ke KSDA Kalimantan Barat agar mendapatkan bantuan dalam penanggulangannya.

Gambar 11. Kebakaran di Hutan Wisata Baning Tahun 2003

 

Brigdalkar  terdiri dari 60 orang anggota yang terbagi atas 4 regu dengan masing-masing regu berjumlah 15 orang.  Didukung dengan mobil pick up 4 unit, mobil box 2 unit dan sepeda motor 7 buah serta peralatan pemadam api standar.

Gambar 12. Pos pemadam Kebakaran

 

Gambar 13. Kebakaran Hutan Wisata Baning di Belakang Rumah Penduduk

 

Gambar 14. Mobil Manggala Agni  (Pemadam Kebakaran Hutan)

Kebakaran 2003 ini merupakan ke-5 kali sejak kawasan ini ditetapkan oleh Pemerintah. Kebakaran hutan pertama kali terjadi tahun 1992, 1995, 1997, dan 2002. Luas kawasan yang terbakar pada tahun 1992 sekitar 8 Ha., Kemudian tahun 1995 sekitar 25 Ha. dan tahun 1997 seluas 60 Ha. serta tahun 2002 seluas 0,5 Ha. Untuk kebekaran tahun 2003 ini belum di hitung luas areal terjadinya kebakaran hutan namun yang pasti akibat dari kebakaran ini telah menghilangkan flora yang hangus akibat kebakaran dan jenis-jenis satwa yang hidup di dalam kawasan serta efek samping sepertu erosi yang muncul akibat keterbukaan lahan. Kebakaran ini selain berakibat terhadap kawasan hutan juga berpengaruh kepada masyarakat, khususnya dibidang keamanan dan kesehatan. Terjadinya kebakaran hutan yang relatif dekat dengan pemukiman masyarakat (seperti gambar 13.) sangat merisaukan masyarakat sekitar yang khawatir rumahnya ikut terbakar. Belum lagi kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran itu dapat menurunkan tingkat kesehatan masyarakat, seperti gangguan pernapasan dan asma.

Gambar 15. kondisi Kawasan Bekas Kebakaran tahun 2002

 

Adapun kegiatan insidentil yang telah dilaksanakan antara lain :

a.       Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKN) Tahun 1994, merupakan proyek Dinas Kehutanan Kalimantan Barat. Bibit yang ditanam dari jenis Dipterocarpaceae seperti Mabang (Shorea panchyphylla), Meranti Bunga (Shorea farvifolia), dan lain-lain.

b.      Pembuatan saluran drainase Tahun 1995-1996, merupakan proyek Pemda Daerah Tingkat II Sintang. Pembuatan drainase ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya penyerobotan lahan dan kebakaran hutan dalam kawasan pada musim kemarau. Panjang drainase ini kurang lebih 6 km melingkari kawasan dan sebagian masuk dalam kawasan hutan.

Gambar 16. Parit/ saluran drainase

c.       Rehabilitasi Kawasan Taman Wisata Alam Baning Tahun 2002, merupakan proyek BKSDA kalimantan Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali jenis-jenis tanaman yang tumbuh dihabitat aslinya dengan melakukan kegiatan penanaman pada areal bekas kebakaran. Selain itu dengan adanya campur tangan manusia melalui kegiatan penanaman diharapkan akan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan cepat dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terbuka.

Kegiatan rehabilitasi ini dilaksanakan selama 15 hari kerja dengan sasaran areal bekas kebakaran tahun 1997 dan tahun 2002. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 8.000 bibit dengan perincian sebagai berikut :

- Rengas Biasa (Glutha renghas)                                          = 1.500 bibit

- Rengas Burung (Melanorrhoea walichii)                            = 1.500 bibit

- Mentibu (Dactylocladus stenostachys)                               =    114 bibit

- Pulai (Alstonia schoolaris)                                                 =    200 bibit

- Kempilik  (Quercus sp)                                                       =    100 bibit

- Tamang Burung (Eugenia sp)                                              =    200 bibit

- Ubah (Eugenia sp)                                                             =    100 bibit

- Bintangor (calophyllum inophylum)                                   = 2.500 bibit

- Jelutung (Dyera costulata)                                                  =    100 bibit

- Medang (Litsea sp)                                                            =    100 bibit

Namun disayangkan kegiatan rehabilitasi ini hanya berupa penanaman, sedangkan kegiatan pemeliharaan seperti : penyulaman, pendangiran, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, dan kegiatan pemeliharaan lainnya tidak dilaksanakan.